aden ko a

Rabu, 29 Desember 2010

DAMPAK AVIAN INFLUENZA TERHADAP INDUSTRI PERUNGGASAN DI INDONESIA


Ditulis oleh: Drh. Suryatman Wahyudi (PNS di Pemda Kabupaten Lombok Timur)
Wabah avian influenza (AI) di Asia diawali dengan terjangkitnya peternakan unggas di China. Kemudian wabah AI menyebar dengan cepat ke negara-negara tetangga, Thailand, Vietnam, Malaysia, Philipina dan Indonesia (Ilham dan Yusdja, 2008).
Munculnya wabah virus high pathogenic avian influenza (HPAI) H5N1 sekitar bulan Agustus 2003 yang pertama kali ditemukan pada beberapa peternakan ayam ras komersial di Jawa Barat dan Jawa tengah. Kasus tersebut meluas ke berbagai daerah di Jawa Tengah, Jawa Barat, Jawa Timur, Daerah Istimewa Yogyakarta, Lampung, Bali, serta beberapa daerah di Sumatera dan Kalimantan. Pada tahun 2003, wilayah yang terjangkit penyakit tersebut mencakup 9 provinsi, yang terdiri dari 51 kabupaten/kota dan jumlah ayam/unggas yang mati mencapai 4,13 juta ekor. Pada tahun 2004, Departemen Pertanian pernah memperkirakan kerugian akibat wabah avian influenza berkisar antara 488 milyar rupiah sampai 7,7 trilyun rupiah (Asmara, 2007).
Jumlah kematian unggas akibat serangan virus AI sejak bulan Agustus 2003 sampai dengan November 2005 diperkirakan telah mencapai 10,45 juta ekor. Jumlah kematian unggas pada tahun 2005 cenderung menurun drastis dibandingkan dengan tahun 2003 maupun tahun 2004, walaupun daerah terserang cenderung meluas. Di tengah menurunnya kasus AI di peternakan unggas, kita dikejutkan dengan kejadian AI pada orang di Indonesia. Pada bulan Juli 2005, kasus AI pada manusia pertama di Indonesia dilaporkan di Kabupaten Tangerang, Provinsi Banten walaupun sumber penularan tidak diketahui dengan pasti (Asmara, 2007). Data terakhir menyebutkan bahwa virus HPAI H5N1 dinyatakan endemik di 31 dari 33 provinsi kecuali Gorontalo dan Maluku Utara (Basuno, 2008; Susanti et al., 2008).
Menurut laporan FAO tahun 2004, dampak AI pada sektor peternakan unggas adalah menurunnya permintaan DOC di daerah terinfeksi yaitu 57,9 persen untuk broiler dan 40,4 persen untuk layer. Produksi menurun 40,7 untuk broiler dan 52,6 persen untuk layer. Selain itu permintaan pakan turun 45 persen, sedangkan untuk lapangan kerja di daerah terinfeksi menurun 39,5 persen.
Basuno (2008) menyatakan akibat dari wabah AI tersebut terjadi penurunan produksi telur dan daging 30-40 persen. Beberapa perusahaan peternakan, khususnya perusahaan rakyat gulung tikar karena terjadinya permintaan telur dan daging. Dampak wabah AI dapat dilihat dari suplai DOC untuk broiler dan layer setelah bulan Oktober 2003. Suplai yang sebelumnya berfluktuasi secara normal, berubah menjadi menurun tajam sampai bulan Pebruari 2004. Meskipun pada bulan Maret sampai Juni 2004 suplai DOC mulai pulih kembali, namun suplainya tetap di bawah kondisi normal. Produksi DOC dalam negeri diperkirakan mengalami penurunan sebesar 9,6 persen untuk broiler dan 27,5 persen untuk layer. Kegiatan ekspor dan impor juga mengalami gangguan dengan terjadinya wabah AI. Pada tahun 2002 Indonesia mengimpor DOC broiler dan layer dalam kondisi normal. Setelah wabah tahun 2003, impor DOC broiler langsung dihentikan, tetapi impor telur tetas masih berlangsung. Pada tahun 2004 impor DOC maupun telur tetas telah dihentikan seluruhnya sehubungan dengan kebijakan pemerintah yang melarang impor bibit dari negara-negara yang tertular AI.
Lebih lanjut dikemukakan bahwa selain itu, wabah AI mempengaruhi angka ekspor DOC tahun 2003 dan mengalami penurunan sekitar 30 persen dibandingkan angka ekspor tahun 2002. Hal ini disebabkan adanya penolakan dari negara-negara importer karena mewabahnya AI di Indonesia, sehingga pada tahun 2004 tidak ada ekspor lagi. Untuk broiler bahkan tahun 2003 sudah tidak ada ekspor lagi, kecuali telur tetas yang jumlahnya setara dengan 695 ribu ekor DOC. Wabah AI membawa kerugian cukup besar bagi pembibit, mengingat investasi untuk memproduksi DOC dengan tujuan ekspor dan pasar dalam negeri terpaksa menganggur.
Dampak Avian Influenza Terhadap Peternakan Rakyat
Dampak AI selain menimbulkan dampak pada sektor industri perunggasan besar, tetapi juga menyebabkan efek yang besar terhadap perkembangan peternakan unggas skala kecil atau peternakan rakyat terutama karena sebagian besar peternakan unggas merupakan peternakan kecil dan berada di pedesaan.
Produsen unggas di Indonesia merupakan sektor yang didominasi oleh industri rumah tangga berskala kecil. Penurunan permintaan daging unggas memberikan dampak terhadap penerimaan rumah tangga tersebut. Hal ini menjadi alasan untuk menekan pemerintah untuk mengambil tindakan menurunkan potensi kerugian atau memberikan kompensasi di level peternak. Namun demikian, kompensasi tersebut ternyata belum mampu menutup kerugian (minimal menutup biaya produksi) yang diderita peternak. Kendala keterbatasan anggaran negara seringkali menjadi kendala bagi pemerintah untuk mengantisipasi merebaknya AI (Oktaviani et al., 2008).
FAO mengklasifikasikan wabah AI terutama terjadi pada sektor 3 dan 4. Sektor 3 berperan besar terhadap produksi telur dan daging yakni sekitar 60 persen dari total produksi. Selain itu sektor 3 juga menyediakan kesempatan kerja yang berarti di pedesaan. Sedangkan peternakan sektor 4 merupakan lapangan usaha yang umum terdapat di pedesaan dan wilayah sub urban. Mereka memelihara ayam buras, itik, merpati dan puyuh sebagai bagian dari pendapatan rumah tangga. Pada umumnya usaha pada sektor ini merupakan usaha sambilan, namun memberikan sumbangan pendapatan yang tergolong penting bagi kelompok masyarakat berpenghasilan rendah (FAO, 2004). Dengan demikian, wabah AI jelas memberikan dampak sosial ekonomi yang sangat besar pada sektor 3 dan 4 ini (Ilham dan Yusdja, 2008).
Peternak pada sektor 3 umumnya mempunyai 2 sistem produksi yaitu peternak mandiri dan peternak bermitra. Peternak bermitra terdiri atas dua bentuk yakni bermitra dengan perusahaan komersial dan bermitra dengan pemilik modal. Peternak mandiri mempunyai kebebasan dalam membuat keputusan pembiayaan dan pemasaran hasil. Peternak yang bermitra dengan perusahaan komersial dan dengan pemilik modal mempunyai ketergantungan pada pelayanan input dan produksi perusahaan komersial dan pemilik modal, karena itu harus memenuhi semua peraturan yang dikembangkan dalam kemitraan tersebut.
Wabah AI yang terjadi pada sektor 4 memberikan dampak yang luas karena mencakup para pelaku yang berhubungan dengan sektor ini, antara lain peternak, pedagang dalam berbagai level, termasuk perusahaan pemotongan ayam. Dalam bentuk kemitraan, peternak dalam pengadaan input sangat tergantung pada pelayanan yang tersedia di sekitar lokasi. Pelayanan input ini dilakukan para pengusaha penjualan input seperti poultry shop (Ilham dan Yusdja, 2008).
Kajian terhadap dampak AI pada usaha peternakan rakyat memperlihatkan bahwa diantara usaha peternakan rakyat yang paling menderita akibat AI adalah usaha ayam petelur baik yang terintegrasi maupun yang mandiri. Peternakan ayam petelur ternyata lebih rentan terhadap wabah AI dibandingkan dengan ayam broiler. Hal ini disebabkan oleh beberapa faktor, yaitu (1) siklus pemeliharaan layer membutuhkan waktu relatif panjang yakni 18 bulan, (2) ayam petelur dipelihara dengan sebaran umur yang berlainan, (3) biosekuriti pada ayam petelur relatif lebih komplek dan mahal dibandingkan dengan ayam broiler (Yusdja et al, 2004).
Lebih jauh diungkapkan Yusdja et al. (2004) bahwa kerugian akibat wabah AI dapat bersifat langsung berupa kematian dan dampak tidak langsung akibat dari penurunan konsumsi hasil ternak yang mendorong penurunan harga-harga hasil ternak. Nilai kerugian akibat dampak langsung berupa kematian tergantung jenis perusahaannya. Misalnya, untuk usaha ayam broiler pada perusahaan komersial mandiri dan komersial terintegrasi, kerugiannya masing-masing Rp. 10.280/ekor dan Rp. 7.942/ekor. Pada perusahaan ayam petelur, kerugiannya relatif lebih tinggi. Misalnya pada perusahaan komersial mandiri dan komersial terintegrasi, kerugiannya masing-masing Rp. 23.297/ekor dan Rp. 15.364/ekor. Kalau dampak tidak langsung juga diperhitungkan maka kerugiannya adalah Rp. 66.000/ekor dan Rp. 63.080/ekor untuk perusahaan komersial mandiri dan komersial terintegrasi.
Kerugian akibat wabah AI pada sektor 3 dan 4 terutama disebabkan karena usaha peternakan ini berperan sangat penting dalam struktur pendapatan keluarga. Dampak wabah AI menyebabkan penurunan sumbanagan usaha ternak unggas terhadap pendapatan keluarga, khususnya bagi peternak kecil yaitu sebesar 10 persen. Akibatnya terjadi penurunan pengeluaran keluarga sekitar 20 persen bagi peternak kecil (Basuno, 2008).
Bahan Bacaan:
Asmara, W. 2007. Peran Biologi Molekuler Dalam Pengendalian Avian Influenza dan Flu Burung. http://www.komnasfbpi.go.id/files/naskah pidato-Guru Besar UGM_Widya_Asmara.pdf. [20Januari 2009]
Basuno, E. 2008. Review Dampak Wabah dan Kebijakan Pengendalian Avian Influenza di Indonesia. Pusat Analisis Sosial Ekonomi dan Kebijakan Pertanian Bogor. Jurnal Analisis Kebijakan Pertanian Volume 6 No. 4.
Ilham, N., dan Yusdja, Y. 2008. Dampak Flu Burung Terhadap Kesejahteraan Peternak Skala Kecil di Indonesia. http://peternakan.litbang.deptan.go.id. [19 Januari 2009].
Oktaviani, R., Sahara., Puspitawati, E., 2008. Dampak Merebaknya Flu Burung Terhadap Ekonomi Makro Indonesia: Suatu Pendekatan CGE. Depertemen Ilmu Ekonomi. Fakultas Ekonomi dan Manajemen. Institut Pertanian Bogor.
Susanti, R., R. Soejoedono., I.G.N.K. Mahardika., I.W.T. Wibawan., dan M.T. Suhartono. 2007. Potensi Unggas Air Sebagai Reservoir Virus High Pathogenic Avian Influenza subtipe H5N1. http://peternakan.litbang.deptan.go.id/publikasi/jitv/jitv 122-11.pdf. [19 Januari 2008].
Yusdja, Y., E. Basuno., I.W. Rusastra., M. Ariani., Suharsono., dan P. Situmorang. 2004. Penelitian Dampak Kasus Avian Influenza Terhadap Sistem Produk Unggas di Indonesia dengan Fokus Utama Peternak Kecil Mandiri. Kerjasama Antara Pusat Penelitian dan Pengembangan Sosial Ekonomi Pertanian, Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian dengan Direktorat Kesehatan Hewan, Direktorat Jenderal Bina Produksi Peternakan dan FAO-RAP Bangkok-TCP/RAS/3010.

PERKEMBANGAN TELUR AYAM HINGGA MENETAS


Ada baiknya sebagai insan dunia veteriner, kita semakin memahami tentang bagaimana perkembangan telur ayam dari hari ke hari hingga ayam menetas.
Masa pengeraman selama 21 hari merupakan masa yang sangat kritis untuk menentukan kelahiran seekor anak ayam. Embrio di dalam telur ini tumbuhsecara luar biasa setiap harinya sampai akhirnya menetas menjadi anak ayam.
Secara garis besar, dari berbagai literatur menyampaikan perkembangan embrio selama 21 hari pengeraman sampai akhirnya jadi anak ayam yang mungil (DOC atau Day Old Chicken) prosesnya sebagai berikut:
Pada hari ke-1 sejumlah proses pembentukan sel permulaan mulai terjadi. Sel permulaanuntuk sistem pencernaan mulai terbentuk pada jam ke-18. pada jam-jamberikutnya, secara berturut-turut sampai dengan jam ke-24, mulai jugaterbentuk sel permulaan untuk jaringan otak, sel permulaan untuk jaringantulang belakang, formasi hubungan antara jaringan otak dan jaringan syaraf,formasi bagian kepala, sel permulaan untuk darah, dan formasi awal syarafmata.
Pada hari ke-2 embrio mulai bergeser ke sisi kiri, dan saluran darah mulai terlihat padabagian kuning telur. Perkembangan sel dari jam ke-25 sampai jam ke-48secara berurutan adalah pembentukan formasi pembuluh darah halus danjantung, seluruh jaringan otak mulai terbentuk, selaput cairan mulai terlihat,dan mulai juga terbentuk formasi tenggorokan.
Lalu pada hari ke-3 dimulainya pembentukan formasi hidung, sayap, kaki, dan jaringanpernafasan. Pada masa ini, selaput cairan juga sudah menutup seluruh bagianembrio.
Selanjutnya pada hari ke-4 sel permulaan untuk lidah mulai terbentuk. Pada masa ini, embrio terpisahseluruhnya dari kuning telur dan berputar ke kiri. Sementara itu, jaringansaluran pernafasan terlihat mulai menembus selaput cairan.
Kemudian pada hari ke-5 saluran pencernaan dan tembolok mulai terbentuk. Pada masa ini terbentukpula jaringan reproduksi. Karenanya sudah mulai dapat juga ditentukan jeniskelaminnya.
Lantas hari ke-6 pembentukan paruh dimulai. Begitu juga dengan kaki dan sayap. Selain itu,embrio mulai melakukan gerakan-gerakan.
Berikutnya hari ke-7, ke-8, dan ke-9 jari kaki dan sayap terlihat mulai terbentuk. Selain itu, perut mulai menonjol karena jeroannya mulai berkembang. Pembentukan bulu juga dimulai. Pada masa-masa ini, embrio sudah seperti burung, dan mulutnya terlihat mulaimembuka.
Ketika hari ke-10 dan ke-11 paruh mulai mengeras, jari-jari kaki sudah mulai sepenuhnya terpisah, danpori-pori kulit tubuh mulai tampak.
Saat hari ke-12Jari-jari kaki sudah terbentuk sepenuhnya dan bulu pertama mulai muncul.
Hari ke-13 dan ke-14 sisik dan kuku jari kaki mulai terbentuk. Tubuh pun sudah sepenuhnyaditumbuhi bulu. Pada hari ke-14, embrio berputar sehingga kepalanya tepatberada di bagian tumpulnya telur.
Hari ke-15 jaringan usus mulai terbentuk di dalam badan embrio.
Waktu hari ke-16 dan ke-17 sisik kaki, kuku, dan paruh semakin mengeras. Tubuh embrio sudahsepenuhnya tertutupi bulu yang tumbuh. Putih telur sudah tidak ada lagi, dankuning telur meningkat fungsinya sebagai bahan makanan yang sangat pentingbagi embrio. Selain itu, paruh sudah mengarah ke rongga kantung udara, selaput cairan mulai berkurang, dan embrio mulai melakukan persiapan untukbernafas.
Ketika hari ke-18 dan ke-19 pertumbuhan embrio sudah mendekati sempurna. Kuning telur mulai masukke dalam rongga perut melalui saluran tali pusat. Embrio juga semakin besarsehingga sudah memenuhi seluruh rongga telur kecuali rongga kantung udara.
Kala hari ke-20 kuning telur sudah masuk sepenuhnya ke dalam tubuh embrio. Embrio yanghampir menjadi anak ayam ini menembus selaput cairan, dan mulai bernafasmenggunakan udara di kantung udara. Saluran pernafasan mulai berfungsi danbekerja sempurna.
Akhirnya hari ke-21Anak ayam menembus lapisan kulit telur dan menetas menjadi DOC.
Sumber: drh. Yonathan Rahardjo dan Berbagai sumber

BRUCELLOSIS PADA TERNAK SAPI


BRUCELLOSIS PADA TERNAK SAPI
SAPI sakit_ilustrasi
Brucellosis adalah penyakit reproduksi menular ruminansia yang disebabkan oleh kuman Brucella sp (Anonimus 1, 2004). Penyakit ini merupakan penyakit penting di Indonesia yang dapat menular ke manusia (zoonotik) (Anonimus 1, 2004). Brucellosis dilaporkan menyebar ke berbagai wilayah Indonesia sehingga menimbulkan kerugian ekonomis yang cukup besar bagi pengembangan peternakan akibat kematian dan kelemahan pedet, abortus, infertilitas, sterilitas, penurunan produksi susu dan tenaga kerja ternak, serta biaya pengobatan dan pemberantasan yang mahal (Anonimus 1, 2004).
Brucella menyebabkan keguguran atau keluron pada umur kebuntingan tertentu (Soejodono, 1999). Di Indonesi penyakit ini disebut juga penyakit keluron menular atau Bang (Soejodono, 1999).Bakteri penyebabnya sampai saan ini telah diidentifikasikan sebagai 6 (enam) spesies yaiu Brucella melitensis, Brucella abortus, Brucella suis, Brucella neotomae, Brucella ovis, dan Brucella canis (Soejodono, 1999). .
Infeksi Brucella sp. bersifat fakultatif intraseluler yang bersifat kronis (Anonimus 1, 2004). Pada ternak terinfeksi akan terbentuk reaksi tanggap kebal humoral secara persisten atau bertahan lama dengan terbentuknya antibodi di dalam serum (Anonimus 1, 2004). Antibodi tersebut dapat dideteksi dengan uji coba serologis seperti Rose Bengal Test (RBT) dan Complement Fixation Test (CFT) (Anonimus 1, 2004).
Usaha pencegahan dan pengendalian terhadap Brucellosis sapi pada umumnya terfokus pada pemberantasan penyakit dengan mengendalikan populasi sapi bebas dari agen penyakit (Siregar, 2000). Oleh karena itu semua usaha Dinas Peternakan diarahkan pada mencegah berpindahnya dan menyebarnya agen penyakit serta mencegah penderita baru (Siregar, 2000). Pada prinsipnya vaksinasi sapi betina muda dengan vaksin inaktif (strain 19) perlu dilakukan pada wilayah dengan prevalensi Brucellosis tinggi, dengan tujuan sementara untuk menurunkan jumlah keguguran (Siregar, 2000).
DIAGNOSA SEROLOGIS Brucella abortus
Pemeriksaan bakteriologis terhadap Brucellosis pada dasarnya dapat dilakukan (Siregar, 2000) . Hanya saja pemeriksaan tersebut sangat sulit dan relatif memakan waktu banyak (Siregar, 2000). Dengan demikian alternatif pemeriksaan secara serologis lebih mudah dilakukan, dengan memperhatikan ketelitian pengamatan dan interpretasi (Siregar, 2000).
Uji serologis yang dapat dilakukan adalah menggunakan Rose Bengal Presipitation Test (RBT), Semen Agglutination Test (SAT), Complement Fixation Test (CFT) dan Enzyme-linked Immunosorbent assay (ELISA) (Siregar, 2000). Kendala dalam uji serologis ini adalah munculnya reaksi positif palsu, reaksi silang dengan antibodi yang ditimbulkan oleh bakteri lain seperti Yersinia enterocolitica, E. coli, Vibrio cholerae (Siregar, 2000).
Penilaian uji serologis Brucellosis akan sulit dilakukan tanpa ada pengetahuan mengenai respon antibodinya (Anonimus 2, 2000). Antibodi adalah serum protein yang dihasilkan oleh sel limfosit sebagai respons terhadap infeksi atau vaksinasi (Anonimus 2, 2000). Pada hewan ruminansia, serum protein yang disebut immunoglobulin diklasifikasikan menjadi IgG1, IgG2, IgM dam IgA (Anonimus 2, 2000). Fungsi immunoglobulin adalah menginaktifkan dan meneleminasi antigen dengan jalan mengikatnya, sehingga mengakibatkan aglutinasi, antigen lebih peka terhadap fagositosis dan merupakan awal reaksi dari ikatan komplemen, sehingga menyebabkan sel menghancurkan diri (lysis) (Anonimus 2, 2000).
Ditjen Bina Produksi Peternakan menetapkan bahwa , semua CFT sebagai uji serologis akhir untuk menetapkan ternak menderita Brucellosis dan hanya hasil negatif yang diperbolehkan dilalulintaskan (Siregar, 2000). Dalam melaksanakan uji tapis secara serologic MRT, RBT dan CFT dapat dilaksanakan (Siregar, 2000).

Dalam menjalankan usaha pengendalian Brucellosis dilapangan dianjurkan beberapa pola sebagi berikut, yaitu : 1. Uji tapis yang dilaksanakn pada sapi-sapi yang diketahui gejala klinisnya, 2. Uji tapis yang dilaksanakn terutama pada sapi-sapi perah yang bernaung dibawah koperasi (Siregar, 2000).
Pola satu ini diarahkan pada pengamatan gejala klinis :
1. Untuk sapi betina yang diduga menderita Brucellosis karena :
a. Sapi dara bunting pertama mengalami keguguran pada usia kebuntingan 5-7 bulan.
b. Sapi betina dewasa produktif mengalami keguguran pada usia 5-7 bulan.
c. Sapi betina dewasa pernah diketahui mengalami keguguran pada usia kebuntingan 5-7 bulan dan setelah dilakukan 3-4 kali inseminasi buatan belum bunting lagi.
2. a. Sapi jantan dewasa terutama yang dipilih sebagi donor semen atau yang dipakai sebagai pejantan kawin alam.
b. Sapi jantan lainnya pada kelompok ternak tertentu yang menderita orkiditis dan atau epididimitis.
Uji MRT dengan menggunakan susu kelompok atau individu , secara teoritis dapat juga dilakukan pada sapi potong, namun hal tersebut sulit dilakukan karena susu induk pada umumnya untuk membesarkan anaknya (Siregar, 2000). Tetapi pada sapi perah lebih mudah karena berada di kandang dan biasa diperah (Siregar, 2000).
1. MRT dengan hasil uji negatif kemungkinan keguguran disebabkan oleh penyakit lain, kemudian uji ulang serologis harus dilakukan tiga bulan kemudian. Bila MRT positif dapat dilanjutkan dengan uji RBT.
2. RBT negatif dapat pula disebabkan karena penyakit lain, pemeriksaan ulang setelah tiga bulan tetap harus dilaksanakan.
3. Bila RBT positif , maka dilanjutkan dengan uji CFT.
4. Bila CFT ternyata negatif, sapi tersebut dianggap bebas penyakit.
5. Bila CFT positif, maka sapi tersebut dikeluarkan dari kandang/ kelompok sapi untuk dipotong. Kandang didisinfeksi sehingga mengurangi kemungkinan penularan pada sapi lainnya.
Uji tapis pola 2 mungkin lebih sesuai untuk dilaksanakan pada sapi-sapi perah yang bernaung pada koperasi. Biasanya koperasi membagi dalam kelompok dan sub kelompok peternak. Pengelompokan bisa berdasar kedekatan beberapa kandang peternak atau menurut lokasi. Dimana produksi susu perhati tersebut digabung pengirimannya.
1. Milk Rink Test (MRT) dilakukan pada susu gabungan
a. Hasil negatif dilanjutkan dengan pengambilan sample dari sub kelompok peternak sampai susu individu sapi dikandang. Hal tersebut dilakukan agar mendapatkan hasil yang akurat. Bila sampai pemeriksaan individu sapi MRT masih menghasilkan uji negatif, maka kelompok sapi-sapi pada kelompok peternak dianggap bebas dari Brucellosis. Untuk kelompok ini test dulangi setelah tiga bulan.
b. Bila MRT positif, maka pemeriksaan dilakukan sampai ke sub kelompok peternak, susu sapi sekandang dan individu sapi.
2. Semua sapi-sapi yang memberikan hasil positif dilanjutkan pemeriksannya dengan CFT. Sapi dengan hasil uji CFT negatf dianggap bebas Brucellosis, dan dipisahkan dari sapi yang positif, yang harus dikeluarkan dari kandang
3. Sapi-sapi yang positif dilanjutkan pemeriksannya dengan CFT. Sapi dengan hasil uji CFT negatif dianggap bebas Brucellosis, dan dipisahkan dari sapi yang positif, yang harus dikeluarkan dari kandang.
Pola 2 ini memerlukan biaya yang lebih tinggi dan waktu yang lama serta membutuhkan tenaga yang terampil dilapangan, tetapi dapat menghasilkan data prevalensi sesungguhnya, sehingga tindakan yang akan diambil lebih tepat (Siregar, 2000).
INTERPRETASI UJI TAPIS SEROLOGIS
Milk Ring Test (MRT) dapat dgunakan untuk uji tapis Brucellosis pada kelompok ternak maupun individu sapi (Siregar, 2000). Bila populasi sapi laktasi melebihi 1000 ekor, maka sensitivitas (Kemampuan suatu uji dalam mendeteksi hewan sakit secara tepat (Siregar, 2000). Rendahnya angka sensitivitas akan menghasilkan negatif palsu) uji MRT menjadi kurang peka (Siregar, 2000). Susu yang dipakai untuk keperluan uji, harus segar tidak boleh dibekukan atau homogenisasi, tetapi dapat disimpan pada suhu 40C selam 24 jam. Positif palsu dapat terjadi pada sapi yang baru divaksinasi, atau susu berasal dari kolostrum atau menderita mastitis.
Rose Bengal Test (RBT) dianggap sangat sensitive terutama pada sapi yang telah divaksinasi. Oleh karena itu hasil uji positif harus dilanjutkandengan pemeriksaan uji Complement Fixation Test (CFT), yang dianggap paling sensitive terhadap Brucellosis (Siregar, 2000).
Tujuan untuk melakukan suatu uji adalah agar mengetahui apakah seekor sapi menderita Brucellosis atau tidak, artinya kita ingin mengetahui data sapi yang sehat dan yang sakit sehingga dapat dipisahkan kelompok yang hasil ujinya serologis negatif (sehat) dengan kelompok hasil uji positif (sakit) dalam frekuensi-distribusi yang terpisah (Siregar, 2000). Namun dalam prakteknya, karena suatu uji serologis didasarkan pada penetapan empiris, maka disepakati harga ambang yang memisahkan positif dan negatif pada nilai titer tertentu, sehingga ada perbedaan pengamatan positif secara klinis dengan pegamatan titer positif secara serologis. Maka pengamatan klinis positif dan hasil serologis dapat menghasilkan sebagian positif dan sebagian lagi negatif (Siregar, 2000).
Penentuan cutting point (nilai ambang) perlu berhati hati karena apabila posiif palsunya lebih banyak maka ini akan merugikan peternak (Siregar, 2000). Apabila negatif palsunya lebih banyak maka akan menghambat usaha pemberantasan Brucellosis (Siregar, 2000).
Hal-hal lain yang perlu diperhatikan adalah informasi mengenai gejala klinis, menetapkan populasi sapi dengan gejala klinis dugaan terhadap Brucellosis dan dugaan tidak menderita Brucellosis (Siregar, 2000).
Negatif palsu dapat terjadi karena beberapa alas an (Anonimus 2, 2000):
1. Pada masa inkubasi.
2. Infeksi laten pada anak sapi, sapi dara dan sapi bunting.
3. Segera sebelum dan setelah keguguran atau kelahiran, biasanya reaksi tertunda 2-4 minggu.
4. Infeksi kronis.
5. kesalahan petugas dalam pemberian label sample atau sample tertukar sewaktu pemeriksaan dilaboratorium.
Positif palsu dapat terjadi karena beberapa alas an (Anonimus 2, 2000) :
1. Adanya titer antibody yang persisten setelah vaksinasi dan ini sering terjadi dilapangan. Sebaiknya anak sapi yang divaksin S19 pada umur 3 dan 9 bulan sebaiknya tidak diambil sampelnya pada umur dibawah 20 bulan.
2. Adanya reaksi silang (cross reaction) dengan bakteri lain seperti Yersinia enterocolitica serotipe IX dan beberapa species Salmonella dan Pasteurella.
3. Beberapa hewan menghasilkan abnormal serum globulin yang dapat menimbulkan reaksi aglutinasi.
4. Menggunakan alat suntik untuk vaksinasi S19 dengan vaksinasi lain atau untuk keperluan pengobatan. Alat suntik yang mengandung S19 sulit disterilkan pada kondisi lapangan.
PEMUPUKAN
Evaluasi uji serologis juga dapat dilakukan dengan pemupukan (kultur) terhadap serum hewan atau jaringan yang memperlihatkan hasil uji serologi positif (Anonimus 2, 2000). Pada BPPH wilayah maros terhadap jumlah spesimen uji serologi positif yang menunjukkan hasil pemupukan kultur positif (Anonimus 2, 2000).
Beberapa media yang dapat digunakan adalah (Madkour, 1989) :
a. Serum dextrose Agar (SDA).
b. Farrells Antibiotic Medium.
c. Glycerol Dextrose Agar.
d. Modified Brodie and Sintons liquid medium.
e. Castaneda biphasic medium culture bottles.
f. Modified vancomycin-colistimethate-nystatin (VCN) medium.
g. Dye sensitive test media
h. Dan lain-lain
PEMERIKSAAN MIKROSKOPIK
Swap dari vagina, plcenta, dan jaringan pada kejadian aborsi dapat di buat preparat ulas, kemudian di warnai dengan pewarnaan Stamp modifikasi Ziehl neelsen, Koster dan Macchiavello (Madkour, 1989). Brucella tidak akan terwarnai oleh asam lemah ataupun basa, dan muncul dengan warna merah atau oranye, sering dikelirukan dengan Chlamydia dan Coxiella burnettii (Madkour, 1989). FAT dapat dilakukan sebagai alternatif (Madkour, 1989)
PEMERIKSAAN IN VIVO
Brucella yang berasal dari susu dan material lain yang terkontaminasi dapat diinokulasikan intra muscular pada Hamster (Madkour, 1989). Hamster akan mati dalam 4-6 minggukemudian limpa, testis, epididimis dan limfoglandulanya di sub cultrure ke SDA (Madkour, 1989). Untuk Brucella canis yang diisolasi dari darah anjing dapat di inokulasikan pada telur berumur 6-8 hari (Madkour, 1989). Apabila embrionya telah mati, diambil hatinya kemudian di sub culturkan pada SDA (Madkour, 1989).
ANTIGEN BRUCELLA ROSE BENGAL
Antigen Brucella Rose Bengal adalah sediaan yang dibuat dari sel kuman Brucella abortus S19 yang diwarnai dengan pewarna Rose Bengal sehingga berwarna merah jambu (Anonimus 1, 2004). Uji Rose Bengal digunakan sebagai uji saring (screening test) dalam diagnosis serologis secara kuantitatif terhadap brucelosis (Anonimus 1, 2004). Apabila hasil pengujian menghasilkan reaksi positip maka dilanjutkan dengan uji ikatan komplemen (Complement Fixation Test CFT) untuk peneguhan diagnosis cara kualitatif (Anonimus 1, 2004).
Uji RBT memiliki sensitivitas yang tinggi sehingga berguna untuk mendiagnosa penyakit brucellosis pada daerah dengan tingkat prevalensi yang rendah tetapi presentasi vaksinasi cukup tinggi (Anonimus 1, 2004). Uji RBT dapat mendeteksi antibodi yang terbatas pada IgG terhadap B.abortus yang spesifitasnya sangat tergantung pada pH media yang digunakan (Anonimus 1, 2004).
KOMPOSISI
Antigen Rose Bengal dibuat dari biakan B.abortus S19 yang diperbanyak dalam media trypticase soy agar (Anonimus 1, 2004).
Suspensi kuman ditetapkan pada konsentrasi 8% dalam larutan penyangga asam (pH 3,57) (Anonimus 1, 2004). Keasaman pH untuk mencegah aglutinasi antibodi non spesifik (IgM) (Anonimus 1, 2004).
Suspensi kuman diwarnai dengan pewarna Rose Bengal sehingga berwarna merah jambu (Anonimus 1, 2004).
Disimpan pada suhu 40-80 C agar dapat bertahan lama (Anonimus 1, 2004).
Sebanyak 0,025 ml sampel serum dimasukkan ke dalam setiap lubang cawan mikro.
Tambahkan 0,025 ml antigen Rose Bengal (Anonimus 1, 2004).
Aduk larutan tersebut dengan cara menggoyangkan cawan mikro selama 4 menit.
Baca reaksi di atas lampu neon yang terang (Anonimus 1, 2004).
PEMBACAAN HASIL
Positip (+) apabila terjadi aglutinasi sempurna (Anonimus 1, 2004).
Meragukan (+) bila aglutinasi tidak sempurna (Anonimus 1, 2004).
Negatip (-) bila tidak terjadi aglutinasi sama sekali (Anonimus 1, 2004).
COMPLEMENT FIXATION TEST
Umumnya mendeteksi IgG1, juga sedikit IgM (Anonimus 2, 2000). Reaksi positif tidak dapat membedakan antara hewan yang divaksin dengan infeksi alam (Anonimus 2, 2000).
ELISA
Lebih sensitive dibandingkan dengan CFT (Anonimus 2, 2000). Secara umum uji ini mengatasi masalah prozone, karena IgG1 menghambat IgG2 (Anonimus 2, 2000). Menghindari reaksi anti komplimentari yang sering timbul pada CFT (Anonimus 2, 2000).
RESPON ANTIBODI TERHADAP Brucella abortus
Produksi antibody setelah infeksi dipengaruhi oleh status fisiologi hewan, umur dan lain-lain (Anonimus 2, 2000). Respon antibody yang diperoleh adalah (Anonimus 2, 2000) :
1. Infeksi alam
IgM pertama kali diproduksi beberapa hari dan mencapai puncaknya kira-kira 2 minggu setelah infeksi. Pada saat itu juga IgG1 dan IgG2 mulai timbul dan mencapai puncaknya kira-kira 1 bulan.
2. Vaksinasi S19
Jumlah IgM yang diproduksi lebih besar daripada infeksi alam, sedangkan IgG lebih rendah dan umumnya adalah IgG1
Daftar Pustaka
Alton GG, Jones LM, Angus RD, and Verger JM. 1991. Techniques for the Brucellosis Laboratory. Institut National De La Recherche Agronomique. Paris
Anonimus 1. 2004. http://iniansredef.org/products.htm
Anonimus 2. 2000. Pedoman Surveilans dan Monitoring Brucellosis pada sapi dan kerbau. Direktorat Kesehatan Hewan. Direktorat Jenderal Produksi Peternakan. Departemen Pertanian. Jakarta
Madkour MM. 1989. Brucellosis. Butterworths. London
Siregar EA. 2000. endekatan Epidemilogik Pengendalian brucellosis Untuk Meningkatkan Populasi Sapi di Indonesia. Bogor
Soejodono RR. 1999. Zoonosis. Laboratorium Kesmavet FKH-IPB. Bogor

PENAMPUNGAN SEMEN

Penyiapan Vagina Tiruan

1. Masukkan selongsong karet tipis (inner liner) ke dalam
selongsong ebonit. Lipat kedua ujung selongsong karet tipis ke
arah luar dan rekatkan pada batang selongsong ebonit. Ikat
pertautannya menggunakan karet pengikat.
2.Masukkan air hangat (55o - 60o C) ke dalam vagina tiruan melalui
lubang yang tersedia. Pastikan bahwa volume air sudah
mencapai setengah volume vagina tiruan. Tutup lubang air pada
vagina tiruan dengan rapat.
3.Pompakan udara ke dalam vagina tiruan melalui kaatup yang
tersedia sehingga selongsong karet tipis mengembang dan kedua
permukaannya bertemu satu sama lain.
4.Oleskan vaselin putih cair atau KY Jelly menggunakan batang
pengaduk sampai sepertiga panjang vagina tiruan.
5.Ukur temperatur vagina tiruan menggunakan thermometer.
Temperatur vagina tiruan harus mencapai 41o – 44o C pada saat
penis ternak jantan memasukinya. Jadi perhitungkan penurunan
suhu karena panas yang hilang akibat terserap oleh material
vagina tiruan dan lamanya waktu antara penyiapan vagina sampai
pelaksanaan penampungan.
6.Pasang corong karet pada ujung vagina tiruan yang tidak diberi
pelicin.
7.Pasang tabung penampung semen pada ujung corong karet.
Kuatkan pertautanya menggunakan pengikat karet.
8.Lindungi tabung penampung dari benturan dan terpaan cahaya
matahari dengan jalan membungkusnya menggunakan bahan
yang dapat menahaan benturan dan terpaan cahaya.
9.Vagina tiruan siap untuk digunakan

PEMILIHAN PEJANTAN

PEMILIHAN PEJANTAN


Ternak jantan yang akan dijadikan pejantan harus memenuhi persyaratan
sebagai berikut :


a. Umur


Umur ternak yang akan dijadikan sumber semen harus berumur sekurang
kurangnya 1,5 tahun, karena pada umumnya ternak jantan pada tingkat umur
tersebut sudah melewati masa dewasa kelamin (pubertas) dan secara
seksual mereka sudah mampu menhasilkan sperma yang mampu membuagi
sel telur. Umur ternak jantan pada beberapa jenis ternak yang cukup untuk
dijadikan pejantan dapat dilihat pada tabel berikut ini.


Tabel 1. Umur beberapa jenis ternak jantan yang baik untuk dijadikan
pejantan

1 Sapi umur 21 - 24 bulan
2 Domba / Kambing  umur12 - 15 bulan
3 Kerbau umur 24 - 30 bulan
4 Kelinci  umur 9
5 K u d a 21 - 24 bulan
6 Ayam  umur 8 - 10 bulan

Umur ternak jantan tersebut dapat diketahui berdasarkan catatan
kelahirannya. Apabila tidak ada catatan kelahiran dapat diduga berdasarkan
penampilan geligi-nya. Cara penentuan umur berdasarkan penampilan geligi
dapat dipelajari pada bidang ilmu tilik ternak.


b. Silsilah Keturunan


Silsilah keluarga atau silsilah keturunan ternak jantan yang akan dijadikan
sumber semen diusahakan dapat ditelusuri. Ternak tersebut akan lebih baik
kalau merupakan keturunan dari induk dan jantan yang unggul sehingga ia
memiliki potensi genetik yang unggul pula.



c. Kondisi Badan


Ternak jantan yang akan dijadikan bibit harus memiliki kondisi badan yang
normal, tidak memiliki cacat tubuh (terutama bagian kaki) - baik cacat
bawaan atau cacat setelah lahir. Ukuran-ukuran tubuhnya (bobot badan,
tinggi badan, panjang badan) harus di atas rata-rata ternak jantan yang lain
dan proporsional dalam arti hubungan antara tinggi dan bobot badan harus
seimbang.
Ternak tersebut tidak boleh mengidap penyakit, terutama penyakit reproduksi
menular. Ternak yang sehat ditunjukkan oleh sorot mata yang jernih, posisi
daun telinga normal, gerak-geriknya lincah tetapi bersahabat dan memiliki
respon/ refleks yang baik ketika disentuh, bulu-bulunya tersusun rapi dan
terlihat mengkilap.


d. Nafsu Seksual


Nafsu seksual atau libido merupakan parameter penting dalam pemilihan
calon pejantan dan libido tersebut memiliki kaitan yang erat dengan produksi
semen dan kesuburan. Selain itu, nafsu seksual akan berpengaruh terhadap
kemudahan kerja pada saat dilakukan penampungan semen. Waktu yang
diperlukan untuk penampungan semen juga dapat dipersingkat.
Ternak jantan harus memiliki nafsu seksual yang bagus, dalam arti ketika
ber-hadapan dengan ternak betina ia harus menunjukan nafsu yang
menggebu. Nafsu seksual juga ditunjukkan oleh kemampuan pejantan untuk
melakukan per-kawinan berulang-ulang dalam kurun waktu tertentu. Cara
paling mudah untuk menguji nafsu seksual adalah mengukur waktu
reaksinya dengan jalan membiar-kan ternak tersebut mengawini ternak
betina lain setelah dikawinkan. Semakin pendek waktu antara dua
perkawinan yang berturut-turut, semakin baik nafsu seksual si jantan

INSEMINASI BUATAN (IB)




APAKAH INSEMENASI BUATAN ITU?

Iriserninasi Buatan ( disingkat IB) atau Kawin Buatan atau lebih dikenal di kalangan petani peternak dengan istilah “Kawin Suntik” adalah cara terbaru untuk mengawinkan hewan betina.
Sebagaimana diketahui bahwa proses kebuntingan/kelahiran seekor hewan betina didahului dengan proses bertemunya bibit jantan (spermatozoa) dengan sel telur betina ( ovum) yang selanjutnya menumbuhkan bakal anak. Dalam perkawinan secara alam, hewan jantan langsung menaiki sang betina dan menyemprotkan air maninya (yang mengandung sprematozoa) kedalam rahim betina. Dengan Inseminasi Buatan penyemprotan air mani ( semen) ini tidak dilaksanakan langsung oleh pejantannya akan tetapi dengan mempergunakan alat khusus.

1. Penampungan air mani (semen):
Sebelumnya sapi jantan yang telah terpilih dan khusus untuk di ambil semennya, dirangsang (teasing) dengan seekor sapi betina. Sapi jantan dibiarkan menaiki betina teaser, akan tetapi alat kelamin jantan (penis) ditahan jangan sampai masuk kealat kelamin betina (vagina). Sementara ini petugas telah menyiapkan alat penampung semen yang disebut vagina buatan (artificial vagina). Setelah jantannya cukup terangsang, pada saat yang tepat ( saat-saat penjantannya akan menyemprotkan air mani) alat kelamin penjantan dimasukkan dalam vagina buatan dan tertampunglah air mani yang mengandung jutaan spermatozoa.
2. Pengolahan semen beku (Frozen Semen):
Semen yang tertampung dalam vagina buatan segera dibawa kekamar pemeriksaan untuk diperiksa apakah semen dapat diterima dan diproses.
Pemeriksaan yang dilakukan meliputi:
- Keadaan warna ; dilihat secara macroscopis (dengan mata biasa); apakah terlihat seperti susu kental ( baik), agak jernih(sedang) atau bening dan ada kotoran (jelek).
- Volume ( banyaknya); yang dapat diterima minimum 3 cc.
- Motility (gerak gelombang) dan spermatozoa; dilihat dibawah microscope dengan warmer slide.

3. Pengenceran dan pembekuan:
Setelah pemeriksaan, semen dicairkan dengan bahan pengencer khusus (bahan pengecer terdiri dari : skin milk, glocose, glycerol, kuning telur, antibiotik dan aquadest). Pengenceran disesuaikan dengan konsentrasi Semen, sehingga dapat diperoleh setiap dosis 0,25 cc. Larutan mengandung sekitar 25.000.000 spermatozoa. Setiap cc. air mani mengandung sekitar 1.000.000 spermatozoa, sehingga rata-rata dapat diencerkan menjadi 40 dosis. Kalau setiap semprotan ( ejaculatie) pejantan banyaknya 6 cc; air mani, berarti dapat diolah menjadi 240 dosis yang dapat menginseminasi 240 ekor sapi betina. Setelah Semen dicairkan dengan dua tahap (primary diluent dan secondary diluent), setiap dosis (berisi 0,25 - 0,50 cc larutan) dimasukkan dalam straw-straw. Kemudian straw-straw yang telah berisi larutan Semen mi disusun diatas rak-rak dan dibekukan diatas permukaan liquid nitrogen (temperatur -120º C) selama 9 menit. Setelah itu straw dimasukkan ke dalam tempat khusus (stroge container) berisi liquid nitrogen dengan tempratur -196°C. Untuk pengiriman ke daerah-daerah yang memerlukan, dipergunakan contrainer-contrainer yang lebih kecil (transport container). Semen yang telah dibekukan dan disimpan dalam container berisi liquid nitrogen ini dapat bertahan bertahun-tahun.

SENTRA INSEMINASI BUATAN LEMBANG.
Sejak tahun 1976, kebutuhan Semen Beku (frozen semen) untuk lB di Indonesia tidak perlu mengimport lagi. Di Lembang - Bandung teiah dibangun laboratorium yang memproduksi Semen Beku lengkap dengan peralatan-peralatan yang mutakhir. Di Sentra Inseminasi Buatan Lembang ini dipelihara pula beberapa ekor sapi pejantan unggul jenis Luar Negeri seperti sapi Simmental, Herford, Brahman, Limousin, Fries Holland disamping jenis-jenis yang cukup dikenal seperti sapi Ongole, Bali. Ratusan ribu dosis Semen Beku dan bermacam-macam jenis sapi ini diproduksi setiap tahun dan disebarkan ke seluruh daerah yang memerlukan.
KAPAN DAN BAGAIMANA INSEMINASI BUATAN DILAKSANAKAN.
Sebagaimana pada perkawinan secara alam, hewan betina hanya bersedia dikawini oleh penjantannya pada saat-saat tertentu yang disebut masa berahi. Pada saat itulah tersedia telur betina (ovum) yang telah masak yang siap ditunasi spermatozoa. Jangka waktu (siklus) setiap kali masa berahi untuk setiap jenis hewan berbeda-beda. Siklus masa berahi pada sapi antara 18 -24 hari atau rata-rata 21 hari. Perkawinan yang dilaksanakan diluar waktu masa berahi, tidak akan menghasilkan kebuntingan. Demikian pula pada pelaksanaan inseminasi buatan ; harus dilaksanakan pada saat hewan betina dalam masa berahi. Petani peternak harus benar-benar memperhatikan kapan ternaknya dalam keadaan masa berahi. Umumnya hewan betina akan mernperlihatkan tanda-tanda, bilamana masa berahinya tiba. Pada saat itulah lB dilaksanakan.
Cara melaksanakannya secara singkat dapat diuraikan sebagai berikut: 
Pertama-tama sapi betina yang akan di lB disiapkan. Mungkin sapinya harus ditempatkan pada kandang khusus (kandang paksa), agar pada saat dipegang tidak dapat menghindar kekiri atau kekanan atau menendang. Alat kemaluan betina dibersihkan. Straw yang berisi Semen Beku dikeluarkan dan container dan sebentar direndam dalam mangkok berisi air, sehingga Semen menjadi cair kembali. Kemudian straw dimasukkan ke dalam alat penyemprot (Insemination gun atau pestolet). Ujung straw yang tertutup dipotong.
Sementara itu dengan tangan kiri dimasukkan dalam saluran kotoran sapi (anus). Bilamana kotorannya banyak, dikeluarkan lebih dahulu agar tangan dapat dengan bebas masuk hingga dapat meraba leher rahim (servix) dimana ujung alat penyemprot yang dengan tangan kanan di masukkan hati-hati ke lobang kemaluan sapi betina, akan memasuki rahim lewat leher rahim. Pada saat itulah Semen yang mengandung spermatozoa disemprotkan. Walaupun nampaknya sederhana sekali, akan tetapi untuk melaksanakannya harus dikerjakan oleh tenaga-tenaga yang telah terlatih dan berpengalaman.


TANDA-TANDA SAPI JANTAN YANG SEDANG BERAHI :
- Tidak tenang, gelisah dan suka menguak-nguak(melenguh-lenguh).
- Nafsu makan berkurang.
- Alat kemaluannya bengkak, merah dan mengeluarkan lendir bening tidak berwarna.
- Apabila digembalakan suka mengejar-ngejar, sapi-sapi betina yang lain dan berusaha menaikinya.

PATOKAN SAAT MENGAWINKAN SAPI.
- Tanda tanda berahi sapi diketahui sekitar jam 4.00 - 12.00 pagi hari, harus dikawinkan pada sekitar jam .12.00 - 18.00 hari itu juga.
- Tanda - tanda berahi diketahui sekitar jam 12.00 - 18.00 sore, harus dikawinkan selambat-lambatnya jam 10.00 pada pagi esok harinya.
-Tanda-tanda berahi diketahui sekitar jam 18.00 - 24.00 harus dikawinkan selambat-larnbatnya jam 10.00 pada pagi esok harinya.
-Khusus pada sapi jenis Ongole harus secepat mungkin dikawinkan setelah terlihat tanda-tanda berahi karena berahi pada sapi jenis Ongole sangat singkat, hanya sekitar 7 - 8 jam saja.

Tujuan, Keuntungan dan Kerugian Insemiasi Buatan


Tujuan, Keuntungan dan Kerugian Insemiasi Buatan
Yang dimaksud dengan Inseminasi Buatan (IB) atau kawin suntik adalah suatu cara atau teknik untuk memasukkan mani (spermatozoa atau semen) yang telah dicairkan dan telah diproses terlebih dahulu yang berasal dari ternak jantan ke dalam saluran alat kelamin betina dengan menggunakan metode dan alat khusus yang disebut ‘insemination gun‘.
Tujuan Inseminasi Buatan
a) Memperbaiki mutu genetika ternak;
b) Tidak mengharuskan pejantan unggul untuk dibawa ketempat yang dibutuhkan sehingga mengurangi biaya ;
c) Mengoptimalkan penggunaan bibit pejantan unggul secara lebih luas dalam jangka waktu yang lebih lama;
d) Meningkatkan angka kelahiran dengan cepat dan teratur;
e) Mencegah penularan / penyebaran penyakit kelamin.
Keuntungan IB
a) Menghemat biaya pemeliharaan ternak jantan;
b) Dapat mengatur jarak kelahiran ternak dengan baik;
c) Mencegah terjadinya kawin sedarah pada sapi betina (inbreeding);
d) Dengan peralatan dan teknologi yang baik spermatozoa dapat simpan dalam jangka waktu yang lama;
e) Semen beku masih dapat dipakai untuk beberapa tahun kemudian walaupun pejantan telah mati;
f) Menghindari kecelakaan yang sering terjadi pada saat perkawinan karena fisik pejantan terlalu besar;
g) Menghindari ternak dari penularan penyakit terutama penyakit yang ditularkan dengan hubungan kelamin.
Kerugian IB
a) Apabila identifikasi birahi (estrus) dan waktu pelaksanaan IB tidak tepat maka tidak akan terjadi terjadi kebuntingan;
b) Akan terjadi kesulitan kelahiran (distokia), apabila semen beku yang digunakan berasal dari pejantan dengan breed / turunan yang besar dan diinseminasikan pada sapi betina keturunan / breed kecil;
c) Bisa terjadi kawin sedarah (inbreeding) apabila menggunakan semen beku dari pejantan yang sama dalam jangka waktu yang lama;
d) Dapat menyebabkan menurunnya sifat-sifat genetik yang jelek apabila pejantan donor tidak dipantau sifat genetiknya dengan baik (tidak melalui suatu progeny test).