Ada kesalahan di dalam gadget ini

Rabu, 29 Desember 2010

BRUCELLOSIS PADA TERNAK SAPI


BRUCELLOSIS PADA TERNAK SAPI
SAPI sakit_ilustrasi
Brucellosis adalah penyakit reproduksi menular ruminansia yang disebabkan oleh kuman Brucella sp (Anonimus 1, 2004). Penyakit ini merupakan penyakit penting di Indonesia yang dapat menular ke manusia (zoonotik) (Anonimus 1, 2004). Brucellosis dilaporkan menyebar ke berbagai wilayah Indonesia sehingga menimbulkan kerugian ekonomis yang cukup besar bagi pengembangan peternakan akibat kematian dan kelemahan pedet, abortus, infertilitas, sterilitas, penurunan produksi susu dan tenaga kerja ternak, serta biaya pengobatan dan pemberantasan yang mahal (Anonimus 1, 2004).
Brucella menyebabkan keguguran atau keluron pada umur kebuntingan tertentu (Soejodono, 1999). Di Indonesi penyakit ini disebut juga penyakit keluron menular atau Bang (Soejodono, 1999).Bakteri penyebabnya sampai saan ini telah diidentifikasikan sebagai 6 (enam) spesies yaiu Brucella melitensis, Brucella abortus, Brucella suis, Brucella neotomae, Brucella ovis, dan Brucella canis (Soejodono, 1999). .
Infeksi Brucella sp. bersifat fakultatif intraseluler yang bersifat kronis (Anonimus 1, 2004). Pada ternak terinfeksi akan terbentuk reaksi tanggap kebal humoral secara persisten atau bertahan lama dengan terbentuknya antibodi di dalam serum (Anonimus 1, 2004). Antibodi tersebut dapat dideteksi dengan uji coba serologis seperti Rose Bengal Test (RBT) dan Complement Fixation Test (CFT) (Anonimus 1, 2004).
Usaha pencegahan dan pengendalian terhadap Brucellosis sapi pada umumnya terfokus pada pemberantasan penyakit dengan mengendalikan populasi sapi bebas dari agen penyakit (Siregar, 2000). Oleh karena itu semua usaha Dinas Peternakan diarahkan pada mencegah berpindahnya dan menyebarnya agen penyakit serta mencegah penderita baru (Siregar, 2000). Pada prinsipnya vaksinasi sapi betina muda dengan vaksin inaktif (strain 19) perlu dilakukan pada wilayah dengan prevalensi Brucellosis tinggi, dengan tujuan sementara untuk menurunkan jumlah keguguran (Siregar, 2000).
DIAGNOSA SEROLOGIS Brucella abortus
Pemeriksaan bakteriologis terhadap Brucellosis pada dasarnya dapat dilakukan (Siregar, 2000) . Hanya saja pemeriksaan tersebut sangat sulit dan relatif memakan waktu banyak (Siregar, 2000). Dengan demikian alternatif pemeriksaan secara serologis lebih mudah dilakukan, dengan memperhatikan ketelitian pengamatan dan interpretasi (Siregar, 2000).
Uji serologis yang dapat dilakukan adalah menggunakan Rose Bengal Presipitation Test (RBT), Semen Agglutination Test (SAT), Complement Fixation Test (CFT) dan Enzyme-linked Immunosorbent assay (ELISA) (Siregar, 2000). Kendala dalam uji serologis ini adalah munculnya reaksi positif palsu, reaksi silang dengan antibodi yang ditimbulkan oleh bakteri lain seperti Yersinia enterocolitica, E. coli, Vibrio cholerae (Siregar, 2000).
Penilaian uji serologis Brucellosis akan sulit dilakukan tanpa ada pengetahuan mengenai respon antibodinya (Anonimus 2, 2000). Antibodi adalah serum protein yang dihasilkan oleh sel limfosit sebagai respons terhadap infeksi atau vaksinasi (Anonimus 2, 2000). Pada hewan ruminansia, serum protein yang disebut immunoglobulin diklasifikasikan menjadi IgG1, IgG2, IgM dam IgA (Anonimus 2, 2000). Fungsi immunoglobulin adalah menginaktifkan dan meneleminasi antigen dengan jalan mengikatnya, sehingga mengakibatkan aglutinasi, antigen lebih peka terhadap fagositosis dan merupakan awal reaksi dari ikatan komplemen, sehingga menyebabkan sel menghancurkan diri (lysis) (Anonimus 2, 2000).
Ditjen Bina Produksi Peternakan menetapkan bahwa , semua CFT sebagai uji serologis akhir untuk menetapkan ternak menderita Brucellosis dan hanya hasil negatif yang diperbolehkan dilalulintaskan (Siregar, 2000). Dalam melaksanakan uji tapis secara serologic MRT, RBT dan CFT dapat dilaksanakan (Siregar, 2000).

Dalam menjalankan usaha pengendalian Brucellosis dilapangan dianjurkan beberapa pola sebagi berikut, yaitu : 1. Uji tapis yang dilaksanakn pada sapi-sapi yang diketahui gejala klinisnya, 2. Uji tapis yang dilaksanakn terutama pada sapi-sapi perah yang bernaung dibawah koperasi (Siregar, 2000).
Pola satu ini diarahkan pada pengamatan gejala klinis :
1. Untuk sapi betina yang diduga menderita Brucellosis karena :
a. Sapi dara bunting pertama mengalami keguguran pada usia kebuntingan 5-7 bulan.
b. Sapi betina dewasa produktif mengalami keguguran pada usia 5-7 bulan.
c. Sapi betina dewasa pernah diketahui mengalami keguguran pada usia kebuntingan 5-7 bulan dan setelah dilakukan 3-4 kali inseminasi buatan belum bunting lagi.
2. a. Sapi jantan dewasa terutama yang dipilih sebagi donor semen atau yang dipakai sebagai pejantan kawin alam.
b. Sapi jantan lainnya pada kelompok ternak tertentu yang menderita orkiditis dan atau epididimitis.
Uji MRT dengan menggunakan susu kelompok atau individu , secara teoritis dapat juga dilakukan pada sapi potong, namun hal tersebut sulit dilakukan karena susu induk pada umumnya untuk membesarkan anaknya (Siregar, 2000). Tetapi pada sapi perah lebih mudah karena berada di kandang dan biasa diperah (Siregar, 2000).
1. MRT dengan hasil uji negatif kemungkinan keguguran disebabkan oleh penyakit lain, kemudian uji ulang serologis harus dilakukan tiga bulan kemudian. Bila MRT positif dapat dilanjutkan dengan uji RBT.
2. RBT negatif dapat pula disebabkan karena penyakit lain, pemeriksaan ulang setelah tiga bulan tetap harus dilaksanakan.
3. Bila RBT positif , maka dilanjutkan dengan uji CFT.
4. Bila CFT ternyata negatif, sapi tersebut dianggap bebas penyakit.
5. Bila CFT positif, maka sapi tersebut dikeluarkan dari kandang/ kelompok sapi untuk dipotong. Kandang didisinfeksi sehingga mengurangi kemungkinan penularan pada sapi lainnya.
Uji tapis pola 2 mungkin lebih sesuai untuk dilaksanakan pada sapi-sapi perah yang bernaung pada koperasi. Biasanya koperasi membagi dalam kelompok dan sub kelompok peternak. Pengelompokan bisa berdasar kedekatan beberapa kandang peternak atau menurut lokasi. Dimana produksi susu perhati tersebut digabung pengirimannya.
1. Milk Rink Test (MRT) dilakukan pada susu gabungan
a. Hasil negatif dilanjutkan dengan pengambilan sample dari sub kelompok peternak sampai susu individu sapi dikandang. Hal tersebut dilakukan agar mendapatkan hasil yang akurat. Bila sampai pemeriksaan individu sapi MRT masih menghasilkan uji negatif, maka kelompok sapi-sapi pada kelompok peternak dianggap bebas dari Brucellosis. Untuk kelompok ini test dulangi setelah tiga bulan.
b. Bila MRT positif, maka pemeriksaan dilakukan sampai ke sub kelompok peternak, susu sapi sekandang dan individu sapi.
2. Semua sapi-sapi yang memberikan hasil positif dilanjutkan pemeriksannya dengan CFT. Sapi dengan hasil uji CFT negatf dianggap bebas Brucellosis, dan dipisahkan dari sapi yang positif, yang harus dikeluarkan dari kandang
3. Sapi-sapi yang positif dilanjutkan pemeriksannya dengan CFT. Sapi dengan hasil uji CFT negatif dianggap bebas Brucellosis, dan dipisahkan dari sapi yang positif, yang harus dikeluarkan dari kandang.
Pola 2 ini memerlukan biaya yang lebih tinggi dan waktu yang lama serta membutuhkan tenaga yang terampil dilapangan, tetapi dapat menghasilkan data prevalensi sesungguhnya, sehingga tindakan yang akan diambil lebih tepat (Siregar, 2000).
INTERPRETASI UJI TAPIS SEROLOGIS
Milk Ring Test (MRT) dapat dgunakan untuk uji tapis Brucellosis pada kelompok ternak maupun individu sapi (Siregar, 2000). Bila populasi sapi laktasi melebihi 1000 ekor, maka sensitivitas (Kemampuan suatu uji dalam mendeteksi hewan sakit secara tepat (Siregar, 2000). Rendahnya angka sensitivitas akan menghasilkan negatif palsu) uji MRT menjadi kurang peka (Siregar, 2000). Susu yang dipakai untuk keperluan uji, harus segar tidak boleh dibekukan atau homogenisasi, tetapi dapat disimpan pada suhu 40C selam 24 jam. Positif palsu dapat terjadi pada sapi yang baru divaksinasi, atau susu berasal dari kolostrum atau menderita mastitis.
Rose Bengal Test (RBT) dianggap sangat sensitive terutama pada sapi yang telah divaksinasi. Oleh karena itu hasil uji positif harus dilanjutkandengan pemeriksaan uji Complement Fixation Test (CFT), yang dianggap paling sensitive terhadap Brucellosis (Siregar, 2000).
Tujuan untuk melakukan suatu uji adalah agar mengetahui apakah seekor sapi menderita Brucellosis atau tidak, artinya kita ingin mengetahui data sapi yang sehat dan yang sakit sehingga dapat dipisahkan kelompok yang hasil ujinya serologis negatif (sehat) dengan kelompok hasil uji positif (sakit) dalam frekuensi-distribusi yang terpisah (Siregar, 2000). Namun dalam prakteknya, karena suatu uji serologis didasarkan pada penetapan empiris, maka disepakati harga ambang yang memisahkan positif dan negatif pada nilai titer tertentu, sehingga ada perbedaan pengamatan positif secara klinis dengan pegamatan titer positif secara serologis. Maka pengamatan klinis positif dan hasil serologis dapat menghasilkan sebagian positif dan sebagian lagi negatif (Siregar, 2000).
Penentuan cutting point (nilai ambang) perlu berhati hati karena apabila posiif palsunya lebih banyak maka ini akan merugikan peternak (Siregar, 2000). Apabila negatif palsunya lebih banyak maka akan menghambat usaha pemberantasan Brucellosis (Siregar, 2000).
Hal-hal lain yang perlu diperhatikan adalah informasi mengenai gejala klinis, menetapkan populasi sapi dengan gejala klinis dugaan terhadap Brucellosis dan dugaan tidak menderita Brucellosis (Siregar, 2000).
Negatif palsu dapat terjadi karena beberapa alas an (Anonimus 2, 2000):
1. Pada masa inkubasi.
2. Infeksi laten pada anak sapi, sapi dara dan sapi bunting.
3. Segera sebelum dan setelah keguguran atau kelahiran, biasanya reaksi tertunda 2-4 minggu.
4. Infeksi kronis.
5. kesalahan petugas dalam pemberian label sample atau sample tertukar sewaktu pemeriksaan dilaboratorium.
Positif palsu dapat terjadi karena beberapa alas an (Anonimus 2, 2000) :
1. Adanya titer antibody yang persisten setelah vaksinasi dan ini sering terjadi dilapangan. Sebaiknya anak sapi yang divaksin S19 pada umur 3 dan 9 bulan sebaiknya tidak diambil sampelnya pada umur dibawah 20 bulan.
2. Adanya reaksi silang (cross reaction) dengan bakteri lain seperti Yersinia enterocolitica serotipe IX dan beberapa species Salmonella dan Pasteurella.
3. Beberapa hewan menghasilkan abnormal serum globulin yang dapat menimbulkan reaksi aglutinasi.
4. Menggunakan alat suntik untuk vaksinasi S19 dengan vaksinasi lain atau untuk keperluan pengobatan. Alat suntik yang mengandung S19 sulit disterilkan pada kondisi lapangan.
PEMUPUKAN
Evaluasi uji serologis juga dapat dilakukan dengan pemupukan (kultur) terhadap serum hewan atau jaringan yang memperlihatkan hasil uji serologi positif (Anonimus 2, 2000). Pada BPPH wilayah maros terhadap jumlah spesimen uji serologi positif yang menunjukkan hasil pemupukan kultur positif (Anonimus 2, 2000).
Beberapa media yang dapat digunakan adalah (Madkour, 1989) :
a. Serum dextrose Agar (SDA).
b. Farrells Antibiotic Medium.
c. Glycerol Dextrose Agar.
d. Modified Brodie and Sintons liquid medium.
e. Castaneda biphasic medium culture bottles.
f. Modified vancomycin-colistimethate-nystatin (VCN) medium.
g. Dye sensitive test media
h. Dan lain-lain
PEMERIKSAAN MIKROSKOPIK
Swap dari vagina, plcenta, dan jaringan pada kejadian aborsi dapat di buat preparat ulas, kemudian di warnai dengan pewarnaan Stamp modifikasi Ziehl neelsen, Koster dan Macchiavello (Madkour, 1989). Brucella tidak akan terwarnai oleh asam lemah ataupun basa, dan muncul dengan warna merah atau oranye, sering dikelirukan dengan Chlamydia dan Coxiella burnettii (Madkour, 1989). FAT dapat dilakukan sebagai alternatif (Madkour, 1989)
PEMERIKSAAN IN VIVO
Brucella yang berasal dari susu dan material lain yang terkontaminasi dapat diinokulasikan intra muscular pada Hamster (Madkour, 1989). Hamster akan mati dalam 4-6 minggukemudian limpa, testis, epididimis dan limfoglandulanya di sub cultrure ke SDA (Madkour, 1989). Untuk Brucella canis yang diisolasi dari darah anjing dapat di inokulasikan pada telur berumur 6-8 hari (Madkour, 1989). Apabila embrionya telah mati, diambil hatinya kemudian di sub culturkan pada SDA (Madkour, 1989).
ANTIGEN BRUCELLA ROSE BENGAL
Antigen Brucella Rose Bengal adalah sediaan yang dibuat dari sel kuman Brucella abortus S19 yang diwarnai dengan pewarna Rose Bengal sehingga berwarna merah jambu (Anonimus 1, 2004). Uji Rose Bengal digunakan sebagai uji saring (screening test) dalam diagnosis serologis secara kuantitatif terhadap brucelosis (Anonimus 1, 2004). Apabila hasil pengujian menghasilkan reaksi positip maka dilanjutkan dengan uji ikatan komplemen (Complement Fixation Test CFT) untuk peneguhan diagnosis cara kualitatif (Anonimus 1, 2004).
Uji RBT memiliki sensitivitas yang tinggi sehingga berguna untuk mendiagnosa penyakit brucellosis pada daerah dengan tingkat prevalensi yang rendah tetapi presentasi vaksinasi cukup tinggi (Anonimus 1, 2004). Uji RBT dapat mendeteksi antibodi yang terbatas pada IgG terhadap B.abortus yang spesifitasnya sangat tergantung pada pH media yang digunakan (Anonimus 1, 2004).
KOMPOSISI
Antigen Rose Bengal dibuat dari biakan B.abortus S19 yang diperbanyak dalam media trypticase soy agar (Anonimus 1, 2004).
Suspensi kuman ditetapkan pada konsentrasi 8% dalam larutan penyangga asam (pH 3,57) (Anonimus 1, 2004). Keasaman pH untuk mencegah aglutinasi antibodi non spesifik (IgM) (Anonimus 1, 2004).
Suspensi kuman diwarnai dengan pewarna Rose Bengal sehingga berwarna merah jambu (Anonimus 1, 2004).
Disimpan pada suhu 40-80 C agar dapat bertahan lama (Anonimus 1, 2004).
Sebanyak 0,025 ml sampel serum dimasukkan ke dalam setiap lubang cawan mikro.
Tambahkan 0,025 ml antigen Rose Bengal (Anonimus 1, 2004).
Aduk larutan tersebut dengan cara menggoyangkan cawan mikro selama 4 menit.
Baca reaksi di atas lampu neon yang terang (Anonimus 1, 2004).
PEMBACAAN HASIL
Positip (+) apabila terjadi aglutinasi sempurna (Anonimus 1, 2004).
Meragukan (+) bila aglutinasi tidak sempurna (Anonimus 1, 2004).
Negatip (-) bila tidak terjadi aglutinasi sama sekali (Anonimus 1, 2004).
COMPLEMENT FIXATION TEST
Umumnya mendeteksi IgG1, juga sedikit IgM (Anonimus 2, 2000). Reaksi positif tidak dapat membedakan antara hewan yang divaksin dengan infeksi alam (Anonimus 2, 2000).
ELISA
Lebih sensitive dibandingkan dengan CFT (Anonimus 2, 2000). Secara umum uji ini mengatasi masalah prozone, karena IgG1 menghambat IgG2 (Anonimus 2, 2000). Menghindari reaksi anti komplimentari yang sering timbul pada CFT (Anonimus 2, 2000).
RESPON ANTIBODI TERHADAP Brucella abortus
Produksi antibody setelah infeksi dipengaruhi oleh status fisiologi hewan, umur dan lain-lain (Anonimus 2, 2000). Respon antibody yang diperoleh adalah (Anonimus 2, 2000) :
1. Infeksi alam
IgM pertama kali diproduksi beberapa hari dan mencapai puncaknya kira-kira 2 minggu setelah infeksi. Pada saat itu juga IgG1 dan IgG2 mulai timbul dan mencapai puncaknya kira-kira 1 bulan.
2. Vaksinasi S19
Jumlah IgM yang diproduksi lebih besar daripada infeksi alam, sedangkan IgG lebih rendah dan umumnya adalah IgG1
Daftar Pustaka
Alton GG, Jones LM, Angus RD, and Verger JM. 1991. Techniques for the Brucellosis Laboratory. Institut National De La Recherche Agronomique. Paris
Anonimus 1. 2004. http://iniansredef.org/products.htm
Anonimus 2. 2000. Pedoman Surveilans dan Monitoring Brucellosis pada sapi dan kerbau. Direktorat Kesehatan Hewan. Direktorat Jenderal Produksi Peternakan. Departemen Pertanian. Jakarta
Madkour MM. 1989. Brucellosis. Butterworths. London
Siregar EA. 2000. endekatan Epidemilogik Pengendalian brucellosis Untuk Meningkatkan Populasi Sapi di Indonesia. Bogor
Soejodono RR. 1999. Zoonosis. Laboratorium Kesmavet FKH-IPB. Bogor

Tidak ada komentar:

Posting Komentar