Ada kesalahan di dalam gadget ini

Rabu, 29 Desember 2010

DAMPAK AVIAN INFLUENZA TERHADAP INDUSTRI PERUNGGASAN DI INDONESIA


Ditulis oleh: Drh. Suryatman Wahyudi (PNS di Pemda Kabupaten Lombok Timur)
Wabah avian influenza (AI) di Asia diawali dengan terjangkitnya peternakan unggas di China. Kemudian wabah AI menyebar dengan cepat ke negara-negara tetangga, Thailand, Vietnam, Malaysia, Philipina dan Indonesia (Ilham dan Yusdja, 2008).
Munculnya wabah virus high pathogenic avian influenza (HPAI) H5N1 sekitar bulan Agustus 2003 yang pertama kali ditemukan pada beberapa peternakan ayam ras komersial di Jawa Barat dan Jawa tengah. Kasus tersebut meluas ke berbagai daerah di Jawa Tengah, Jawa Barat, Jawa Timur, Daerah Istimewa Yogyakarta, Lampung, Bali, serta beberapa daerah di Sumatera dan Kalimantan. Pada tahun 2003, wilayah yang terjangkit penyakit tersebut mencakup 9 provinsi, yang terdiri dari 51 kabupaten/kota dan jumlah ayam/unggas yang mati mencapai 4,13 juta ekor. Pada tahun 2004, Departemen Pertanian pernah memperkirakan kerugian akibat wabah avian influenza berkisar antara 488 milyar rupiah sampai 7,7 trilyun rupiah (Asmara, 2007).
Jumlah kematian unggas akibat serangan virus AI sejak bulan Agustus 2003 sampai dengan November 2005 diperkirakan telah mencapai 10,45 juta ekor. Jumlah kematian unggas pada tahun 2005 cenderung menurun drastis dibandingkan dengan tahun 2003 maupun tahun 2004, walaupun daerah terserang cenderung meluas. Di tengah menurunnya kasus AI di peternakan unggas, kita dikejutkan dengan kejadian AI pada orang di Indonesia. Pada bulan Juli 2005, kasus AI pada manusia pertama di Indonesia dilaporkan di Kabupaten Tangerang, Provinsi Banten walaupun sumber penularan tidak diketahui dengan pasti (Asmara, 2007). Data terakhir menyebutkan bahwa virus HPAI H5N1 dinyatakan endemik di 31 dari 33 provinsi kecuali Gorontalo dan Maluku Utara (Basuno, 2008; Susanti et al., 2008).
Menurut laporan FAO tahun 2004, dampak AI pada sektor peternakan unggas adalah menurunnya permintaan DOC di daerah terinfeksi yaitu 57,9 persen untuk broiler dan 40,4 persen untuk layer. Produksi menurun 40,7 untuk broiler dan 52,6 persen untuk layer. Selain itu permintaan pakan turun 45 persen, sedangkan untuk lapangan kerja di daerah terinfeksi menurun 39,5 persen.
Basuno (2008) menyatakan akibat dari wabah AI tersebut terjadi penurunan produksi telur dan daging 30-40 persen. Beberapa perusahaan peternakan, khususnya perusahaan rakyat gulung tikar karena terjadinya permintaan telur dan daging. Dampak wabah AI dapat dilihat dari suplai DOC untuk broiler dan layer setelah bulan Oktober 2003. Suplai yang sebelumnya berfluktuasi secara normal, berubah menjadi menurun tajam sampai bulan Pebruari 2004. Meskipun pada bulan Maret sampai Juni 2004 suplai DOC mulai pulih kembali, namun suplainya tetap di bawah kondisi normal. Produksi DOC dalam negeri diperkirakan mengalami penurunan sebesar 9,6 persen untuk broiler dan 27,5 persen untuk layer. Kegiatan ekspor dan impor juga mengalami gangguan dengan terjadinya wabah AI. Pada tahun 2002 Indonesia mengimpor DOC broiler dan layer dalam kondisi normal. Setelah wabah tahun 2003, impor DOC broiler langsung dihentikan, tetapi impor telur tetas masih berlangsung. Pada tahun 2004 impor DOC maupun telur tetas telah dihentikan seluruhnya sehubungan dengan kebijakan pemerintah yang melarang impor bibit dari negara-negara yang tertular AI.
Lebih lanjut dikemukakan bahwa selain itu, wabah AI mempengaruhi angka ekspor DOC tahun 2003 dan mengalami penurunan sekitar 30 persen dibandingkan angka ekspor tahun 2002. Hal ini disebabkan adanya penolakan dari negara-negara importer karena mewabahnya AI di Indonesia, sehingga pada tahun 2004 tidak ada ekspor lagi. Untuk broiler bahkan tahun 2003 sudah tidak ada ekspor lagi, kecuali telur tetas yang jumlahnya setara dengan 695 ribu ekor DOC. Wabah AI membawa kerugian cukup besar bagi pembibit, mengingat investasi untuk memproduksi DOC dengan tujuan ekspor dan pasar dalam negeri terpaksa menganggur.
Dampak Avian Influenza Terhadap Peternakan Rakyat
Dampak AI selain menimbulkan dampak pada sektor industri perunggasan besar, tetapi juga menyebabkan efek yang besar terhadap perkembangan peternakan unggas skala kecil atau peternakan rakyat terutama karena sebagian besar peternakan unggas merupakan peternakan kecil dan berada di pedesaan.
Produsen unggas di Indonesia merupakan sektor yang didominasi oleh industri rumah tangga berskala kecil. Penurunan permintaan daging unggas memberikan dampak terhadap penerimaan rumah tangga tersebut. Hal ini menjadi alasan untuk menekan pemerintah untuk mengambil tindakan menurunkan potensi kerugian atau memberikan kompensasi di level peternak. Namun demikian, kompensasi tersebut ternyata belum mampu menutup kerugian (minimal menutup biaya produksi) yang diderita peternak. Kendala keterbatasan anggaran negara seringkali menjadi kendala bagi pemerintah untuk mengantisipasi merebaknya AI (Oktaviani et al., 2008).
FAO mengklasifikasikan wabah AI terutama terjadi pada sektor 3 dan 4. Sektor 3 berperan besar terhadap produksi telur dan daging yakni sekitar 60 persen dari total produksi. Selain itu sektor 3 juga menyediakan kesempatan kerja yang berarti di pedesaan. Sedangkan peternakan sektor 4 merupakan lapangan usaha yang umum terdapat di pedesaan dan wilayah sub urban. Mereka memelihara ayam buras, itik, merpati dan puyuh sebagai bagian dari pendapatan rumah tangga. Pada umumnya usaha pada sektor ini merupakan usaha sambilan, namun memberikan sumbangan pendapatan yang tergolong penting bagi kelompok masyarakat berpenghasilan rendah (FAO, 2004). Dengan demikian, wabah AI jelas memberikan dampak sosial ekonomi yang sangat besar pada sektor 3 dan 4 ini (Ilham dan Yusdja, 2008).
Peternak pada sektor 3 umumnya mempunyai 2 sistem produksi yaitu peternak mandiri dan peternak bermitra. Peternak bermitra terdiri atas dua bentuk yakni bermitra dengan perusahaan komersial dan bermitra dengan pemilik modal. Peternak mandiri mempunyai kebebasan dalam membuat keputusan pembiayaan dan pemasaran hasil. Peternak yang bermitra dengan perusahaan komersial dan dengan pemilik modal mempunyai ketergantungan pada pelayanan input dan produksi perusahaan komersial dan pemilik modal, karena itu harus memenuhi semua peraturan yang dikembangkan dalam kemitraan tersebut.
Wabah AI yang terjadi pada sektor 4 memberikan dampak yang luas karena mencakup para pelaku yang berhubungan dengan sektor ini, antara lain peternak, pedagang dalam berbagai level, termasuk perusahaan pemotongan ayam. Dalam bentuk kemitraan, peternak dalam pengadaan input sangat tergantung pada pelayanan yang tersedia di sekitar lokasi. Pelayanan input ini dilakukan para pengusaha penjualan input seperti poultry shop (Ilham dan Yusdja, 2008).
Kajian terhadap dampak AI pada usaha peternakan rakyat memperlihatkan bahwa diantara usaha peternakan rakyat yang paling menderita akibat AI adalah usaha ayam petelur baik yang terintegrasi maupun yang mandiri. Peternakan ayam petelur ternyata lebih rentan terhadap wabah AI dibandingkan dengan ayam broiler. Hal ini disebabkan oleh beberapa faktor, yaitu (1) siklus pemeliharaan layer membutuhkan waktu relatif panjang yakni 18 bulan, (2) ayam petelur dipelihara dengan sebaran umur yang berlainan, (3) biosekuriti pada ayam petelur relatif lebih komplek dan mahal dibandingkan dengan ayam broiler (Yusdja et al, 2004).
Lebih jauh diungkapkan Yusdja et al. (2004) bahwa kerugian akibat wabah AI dapat bersifat langsung berupa kematian dan dampak tidak langsung akibat dari penurunan konsumsi hasil ternak yang mendorong penurunan harga-harga hasil ternak. Nilai kerugian akibat dampak langsung berupa kematian tergantung jenis perusahaannya. Misalnya, untuk usaha ayam broiler pada perusahaan komersial mandiri dan komersial terintegrasi, kerugiannya masing-masing Rp. 10.280/ekor dan Rp. 7.942/ekor. Pada perusahaan ayam petelur, kerugiannya relatif lebih tinggi. Misalnya pada perusahaan komersial mandiri dan komersial terintegrasi, kerugiannya masing-masing Rp. 23.297/ekor dan Rp. 15.364/ekor. Kalau dampak tidak langsung juga diperhitungkan maka kerugiannya adalah Rp. 66.000/ekor dan Rp. 63.080/ekor untuk perusahaan komersial mandiri dan komersial terintegrasi.
Kerugian akibat wabah AI pada sektor 3 dan 4 terutama disebabkan karena usaha peternakan ini berperan sangat penting dalam struktur pendapatan keluarga. Dampak wabah AI menyebabkan penurunan sumbanagan usaha ternak unggas terhadap pendapatan keluarga, khususnya bagi peternak kecil yaitu sebesar 10 persen. Akibatnya terjadi penurunan pengeluaran keluarga sekitar 20 persen bagi peternak kecil (Basuno, 2008).
Bahan Bacaan:
Asmara, W. 2007. Peran Biologi Molekuler Dalam Pengendalian Avian Influenza dan Flu Burung. http://www.komnasfbpi.go.id/files/naskah pidato-Guru Besar UGM_Widya_Asmara.pdf. [20Januari 2009]
Basuno, E. 2008. Review Dampak Wabah dan Kebijakan Pengendalian Avian Influenza di Indonesia. Pusat Analisis Sosial Ekonomi dan Kebijakan Pertanian Bogor. Jurnal Analisis Kebijakan Pertanian Volume 6 No. 4.
Ilham, N., dan Yusdja, Y. 2008. Dampak Flu Burung Terhadap Kesejahteraan Peternak Skala Kecil di Indonesia. http://peternakan.litbang.deptan.go.id. [19 Januari 2009].
Oktaviani, R., Sahara., Puspitawati, E., 2008. Dampak Merebaknya Flu Burung Terhadap Ekonomi Makro Indonesia: Suatu Pendekatan CGE. Depertemen Ilmu Ekonomi. Fakultas Ekonomi dan Manajemen. Institut Pertanian Bogor.
Susanti, R., R. Soejoedono., I.G.N.K. Mahardika., I.W.T. Wibawan., dan M.T. Suhartono. 2007. Potensi Unggas Air Sebagai Reservoir Virus High Pathogenic Avian Influenza subtipe H5N1. http://peternakan.litbang.deptan.go.id/publikasi/jitv/jitv 122-11.pdf. [19 Januari 2008].
Yusdja, Y., E. Basuno., I.W. Rusastra., M. Ariani., Suharsono., dan P. Situmorang. 2004. Penelitian Dampak Kasus Avian Influenza Terhadap Sistem Produk Unggas di Indonesia dengan Fokus Utama Peternak Kecil Mandiri. Kerjasama Antara Pusat Penelitian dan Pengembangan Sosial Ekonomi Pertanian, Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian dengan Direktorat Kesehatan Hewan, Direktorat Jenderal Bina Produksi Peternakan dan FAO-RAP Bangkok-TCP/RAS/3010.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar