Ada kesalahan di dalam gadget ini

Rabu, 29 Desember 2010

MASTITIS PADA TERNAK SAPI


MASTITIS PADA TERNAK SAPI


Sistem reproduksi sapi betina terdiri dari organ genital eksternal dan internal serta kelenjar mammae. Pemeriksaan organ genital eksternal dan kelenjar mammae dapat dilakukan secara visual dibantu dengan indera perabaan (tactile senses), sedangkan pemeriksaan terhadap organ genital internal hanya dapat dilakukan dengan teknik eksplorasi rektal. Pemeriksaan organ reproduksi di antaranya bertujuan untuk melakukan diagnosa penyakit tertentu yang dapat berpengaruh buruk terhadap kesehatan (reproduksi) hewan secara keseluruhan dan untuk mengetahui status kesehatan reproduksi hewan termasuk fungsi organ-organ reproduksi.
Kebuntingan awal pada sapi dapat diketahui melalui palpasi yaitu ditemukannya suatu massa (embrio) yang membulat (spherical swelling) pada salah satu cornua uterus (pregnant horn of uterus). Embrio selanjutnya berkembang sehingga perbedaan ukuran antara pregnant horn dan non-pregnant horn dapat diketahui dengan jelas. Perbedaan itu berupa adanya peningkatan diameter pada pregnant horn dimana terdapat embrio yang akan berkembang menjadi fetus. Semakin lama umur kebuntingan, semakin besar pula diameter cornua uteri tersebut.
Peningkatan ukuran cornua uteri dapat pula diakibatkan oleh adanya akumulasi cairan yang berasal dari proses patologis, misalnya kondisi pyometra pada kasus endometritis. Terkadang dapat ditemukan discharge purulen pada anterior vagina, namun hal ini bukan merupakan gejala yang konstan (not a constant feature). Endometritis akut pada sapi umumnya disebabkan oleh infeksi post partus. Pada kondisi lebih lanjut sapi yang ditemukan berbaring di tanah (recumbent) dapat dikelirukan dengan gejala hipokalsemia (parturient paresis). Disamping temuan discharge purulen, peradangan pada cervix (cervicitis) biasanya ditemukan pada kasus endometritis yang kronis. Endometritis terutama disebabkan oleh agen Corynebacterium pyogenes atau infeksi Trichmonas foetus. Untuk menentukan diagnosis secara spesifik tidak hanya berdasarkan pemeriksaan makro, tetapi diperlukan pemeriksaan mikroskopis, kultur agen pada media spesifik, dan pemeriksaan serologis.
Dalam beberapa dekade terakhir, proses seleksi telah berhasil menghadirkan sapi perah dengan kriteria high milk yield dan ukuran kelenjar mammae (ambing) yang besar. Oleh karena ukuran ambing yang besar, ditambah lagi dengan posisi lumen puting ambing yang mengarah ke ventral menyebabkan ambing rentan terhadap paparan agen penyakit dan luka akibat trauma mekanis. Selain itu, proses pemerahan susu yang tidak lege artis juga merupakan faktor predisposisi infeksi agen penyakit. Sebagai konsekuensinya, kejadian mastitis pada sapi perah cukup tinggi.
Berbagai perubahan pada ambing dapat diketahui melalui inspeksi (visual examination). Oedema dan kondisi mastitis yang menyebabkan pembengkakan ambing dapat dikenali melalui inspeksi, demikian pula dengan penyusutan ukuran ambing pada kasus atropi ambing akibat mastitis kronis serta adanya luka pada ambing atau puting. Inspeksi dilakukan dengan mengamati kedua kuartir belakang ambing dari posisi belakang sapi dengan mengangkat ekor sapi, sedangkan pengamatan terhadap kedua kuartir depan ambing dilakukan dari posisi samping/lateral hewan. Selanjutnya dibandingkan besar/ukuran tiap kuartir, termasuk kesimetrisan, serta posisi dan kondisi puting. Pada kasus mastitis, dapat diamati adanya disproporsi ukuran antar-kuartir ambing dan pembesaran/pembengkakan ambing. Metode pemeriksaan fisik selanjutnya adalah palpasi. Palpasi dilakukan dengan cara meraba/memegang ambing dan puting yang berguna untuk mengetahui adanya peningkatan suhu ambing (heat), perubahan konsistensi (swelling) serta ada tidaknya respon sakit (pain) pada ambing. Selain pemeriksaan fisik secara inspeksi dan palpasi, diperlukan pemeriksaan lanjutan berupa pemeriksaan mikroskopis, kimia, dan/atau kultur sampel air susu untuk peneguhan diagnosis mastitis. Kejadian mastitis semakin rentan terjadi pada sapi yang semakin tua (korelasi mastitis dan umur sapi) yang sangat terkait dengan semakin lemahnya fungsi otot spinchter pada orificium puting susu.
Mastitis pada sapi disebabkan oleh infeksi berbagai agen mikroorganisme, di antaranya Streptococcus spp., Staphylococcus spp., Escherichia coli, Klebsiella spp., Corynebacterium spp., dan sebagainya. Susu mastitis secara makroskopis dapat diamati dari perubahan warna, bau dan konsistensi. Susu mastitis dapat berwarna merah karena adanya perdarahan akibat trauma pada puting atau berwarna putih mirip seperti warna serum. Konsistensi biasanya lebih encer dan terbentuknya gumpalan susu (clot) merupakan temuan yang bersifat khas pada susu mastitis.
Sumber: drh. Gusti Muhammad Sofyan Noor (2006)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar